Sabtu, 12 Mei 2012

The Late Night Pray

All earthly goods I wish thee.
All that's good for thee and thine
And still, not only earthly
But all we know to be divine.

May earth and heaven mingle
May earth and heaven be one
All through our earthly journey
Till sets our earthly sun.

In Sunshine and in shadow
Through dancing and in song

We will feel no rain
Each of us will be shelter to the other.

Each of us will feel no cold
Each of us will be warmth to the other.
There will be no loneliness for us
Each of us will be companion to the other.
We are two persons
But there is one life before us.

May green be the grass we walk on,
May blue be the skies above us,
May pure be the joys that surround us,
May the sun shine warm upon our face,
May the rains fall soft upon our fields.
May true be our hearts that love each other.

May heaven bless our union
Throughout our whole life long.
And until we meet again,
May God hold you in the palm of his hand.

Senin, 02 April 2012

Now I Realized It..

Now I realized about how will I love you, and how will our relationship be..



I will love you as he did, and we will be a couple like them...Not in the parallel world, but in this world.. just you, and me, and no one else

Words of Wisdom and The Email in The Afternoon

Di siang yang melelahkan karena pekerjaan, gue iseng cek inbox email. Dan gue ngeliat ada email baru dari bos di kantor. Dan ketika gue ngeliat isinya, gue sangat terharu. Bukan, bukan karena isinya itu sendiri, tp Gue terharu karena bos gue mau ngeforwardin email kayak gini ke gue. Well, meminjam pengantar email dr bos: "everything life has to offer", gue sngaja share ini sbatas refleksi pengingat, bahwa terkadang ada hal-hal kecil yang luput dari perhatian kita di hidup ini. dan buat gue tindakan bos gue dalam kirim email ini, merupakan lebih bermakna dari kata-kata yang ada di email ini.

So, enjoy:



"  Words of wisdom we can all live by.... Written by a 90 year old

       This is something we should all read at least once a week!!!!! Make sure you read to the end!!!!!!

       Written by Regina Brett, 90 years old, of the Plain Dealer, Cleveland , Ohio .

       "To celebrate growing older, I once wrote the 45 lessons life taught me. It is the most requested column I've ever written.

       My odometer rolled over to 90 in August, so here is the column once more:

       1. Life isn't fair, but it's still good.

       2. When in doubt, just take the next small step.

       3. Life is too short – enjoy it.

       4. Your job won't take care of you when you are sick. Your friends and family will.

       5. Don't buy stuff you don't need.

       6. You don't have to win every argument. Stay true to yourself.

       7. Cry with someone. It's more healing than crying alone.

       8. It's OK to get angry with God. He can take it.

       9. Save for things that matter.

       10. When it comes to chocolate, resistance is futile.

       11. Make peace with your past so it won't screw up the present.

       12. It's OK to let your children see you cry.

       13. Don't compare your life to others. You have no idea what their journey is all about.

       14. If a relationship has to be a secret, you shouldn't be in it.

       15. Everything can change in the blink of an eye. But don't worry; God never blinks.

       16. Take a deep breath. It calms the mind.

       17. Get rid of anything that isn't useful. Clutter weighs you down in many ways.

       18. Whatever doesn't kill you really does make you stronger.

       19. It's never too late to be happy. But it’s all up to you and no one else.

       20. When it comes to going after what you love in life, don't take no for an answer.

       21. Burn the candles, use the nice sheets, wear the fancy lingerie. Don't save it for a special occasion. Today is special.

       22. Over prepare, then go with the flow.

       23. Be eccentric now. Don't wait for old age to wear purple.

       24. The most important sex organ is the brain.

       25. No one is in charge of your happiness but you.

       26. Frame every so-called disaster with these words 'In five years, will this matter?'

       27. Always choose life.

       28. Forgive but don’t forget.

       29. What other people think of you is none of your business.

       30. Time heals almost everything. Give time time.

       31. However good or bad a situation is, it will change.

       32. Don't take yourself so seriously. No one else does.

       33. Believe in miracles.

       34. God loves you because of who God is, not because of anything you did or didn't do.

       35. Don't audit life. Show up and make the most of it now.

       36. Growing old beats the alternative -- dying young.

       37. Your children get only one childhood.

       38. All that truly matters in the end is that you loved.

       39. Get outside every day. Miracles are waiting everywhere.

       40. If we all threw our problems in a pile and saw everyone else's, we'd grab ours back.

       41. Envy is a waste of time. Accept what you already have not what you need.

       42. The best is yet to come...

       43. No matter how you feel, get up, dress up and show up.

       44. Yield.

       45. Life isn't tied with a bow, but it's still a gift."

       It is estimated 93% won't forward this.



       If you are one of the 7% who will, forward this with the title '7%'."

Jumat, 23 Maret 2012

Couples

Which one do you prefer....

'To have such freedom, we had to suppress or overcome any possesivenes, any tendency to be jealous. To be free, you cant be passionate.' and 'My death wont bring us togther again. This is how things are. Its in itself splendid that we were able to live our lives in harmony for so long.'



or...

'.. I love thee freely, as men strive for right/ I love thee purely, as they turn from praise / I love thee with the passion put to use /In my old griefs, and with my childhood's faith / I love thee with a love I seemed to lose / With my lost saints. I love thee with the breath / Smiles, tears, of all my life/ and, if God choose,
I shall but love thee better after death.'




Parallel Universe

Seandainya dunia paralel ini benar-benar ada...




Apakah kau dan aku akan dipersatukan disana?

Senin, 27 Februari 2012

Logika Matematika, Game Theory, dan Sengketa Kasus Persidangan M. Nazarudin (Part III)

Dan sekarang kita tiba di bagian terakhir tulisan ini (yang semoga tidak se-membosankan kasusnya). Sekarang kenapa Anas Urbaningrum atau Angelina Sondakh berbohong?
Berbeda dengan kasus Nazar yang mengkhawatirkan nasib keluarganya, ada satu hal yang sangat jelas menjadi hal yang dikhawatirkan Anas maupun Angie. Dihukum berat? Bukan, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa hukum bisa diperjualbelikan. Suara Demokrat menurun? Bukan juga, karena sudah menjadi rahasia umum juga, bahwa parpol hanyalah sekumpulan orang yang ingin cari untung bagi dirinya sendiri, tidak lagi identitas yang menonjolkan suatu kebanggaan atau kesamaan ideologi. Lantas apa yang dikhawatirkan? Menurut saya satu, tindakan tegas oleh SBY. SBY?

Ya, mereka lebih khawatir kepada SBY terhadap hukum. Manuver SBY yang tidak terprediksi, bisa menjadi salah satu kekhawatiran utama mereka. SBY memang seringkali terlihat terdiam tak berdaya saat bawahannya berulah. Namun siapa yang tahu, jika tiba-tiba SBY kesal, akhirnya dia menindak tegas kader-kader Demokrat ini? Apalagi citra SBY sedang buruk, bagaimana jika dia memutuskan mengambil beberapa langkah tegas dalam membersihkan partainya, untuk menjaga popularitas(anak)nya?

Oleh karena itu, hal yang tidak dapat diprediksikan Angie maupun Anas, dan yang mereka khawatirkan adalah tindakan tegas SBY. Angie sendiri mungkin sudah tidak terlalu 'khawatir', karena dia sudah tidak peroleh posisi di partai. Namun apakah SBY hanya berhenti disitu? Entahlah. Bisa jadi ada 'langkah pembersihan' lain yang direncanakan dan memerlukan restu Dewan Pembina? Oke, itu sudah melebar terlalu jauh. Yang jelas, Posisi Anas belumlah aman. Siapa tahu demi mempercepat transisi, Anas dilengserkan guna memberi jalan Ibas? Oke, lagi-lagi melebar terlalu jauh. Back to the topic.

Nah sekarang mari kita tabel game theory dibawah ini. Kondisi dimana Anas/Angie berbohong dan SBY memberi tindakan tegas.


SBY menindak tegas

SBY tidak menindak tegas

Lie

(a) 0

(c) +

Don’t Lie

(b) -

(d) -







Kondisi (b) dan (d) menggambarkan kerugian yang akan dialami Anas maupun Angie jika tidak berbohong, terlepas SBY akan memberikan sanksi atau tidak. Apapun variabelnya (misal kita ganti tindakan tegas SBY dengan hukuman persidangan yang ketat), jika Anas ataupun Angie tidak berbohong dan membenarkan tuduhan Nazarudin, jelaslah maka mereka akan sangat sangat rugi. Maka, sebagai orang yang rasional (namun diragukan apakah memiliki perasaan), memang lebih baik bagi mereka untuk berbohong, dan mengelak tuduhan Nazarudin.

Sekarang bagaimana jika mereka berbohong? Jika SBY memberikan tindakan tegas, pada kondisi (a), mereka mengalami kondisi nol, tidak rugi, tidak juga untung. Ya, bisa jadi mereka akan terkena imbas berupa sanksi atau mungkin gerak yang tidak leluasa. tapi tentunya keadaan mereka jauh lebih baik daripada jika mereka membenarkan segala fakta, 'kan?

Sebaliknya, jika SBY tidak melakukan tindakan tegas (kondisi d), mereka akan sangat untung. Mereka bisa mengelak dari segala tuduhan, bisa juga melancarkan manuver-manuver lain, untuk menjaga nama mereka dan posisi (di) partai, termasuk misalnya counter attack terhadap Nazar atas pencemaran nama baik (oya, kabarnya dulu Anas sempat hendak menuntut Nazar atas pencemaran nama baik ini, sekarang apa kabarnya?)

Oleh karena itu, dengan segala hormat terhadap aparat penegak hukum, juga terhadap Yang Mulia Paduka Presiden RI, ada baiknya jika oknum-oknum macam Anas maupun Angie ini mulai diperiksa intensif. Pertama, karena mereka telah sengaja berbohong untuk keuntungan diri mereka sendiri (sesuai dengan game theory yang ada). Kedua, karena jika tidak ada tindakan tegas, semakin menjatuhkan wibawa dari Paduka Yang Mulia, karena hal itu sama saja dengan memberikan kesempatan kepada bandit-bandit negara ini untuk memperbesar keuntungan yang didapat dari ketidaktegasan Paduka Yang Mulia Presiden RI.

Sekian hasil analisa asal saya terkait kasus persidangan ini. Tidak ada tendensi tertentu, hanya mencoba menguak fakta dari sudut pandang lain. Sila ditanggapi, jika ada yang ingin ditambahkan.

Terimakasih telah berkenan membaca,

Salam

Logika Matematika, Game Theory, dan Sengketa Kasus Persidangan M. Nazarudin (Part II)

Sesuai janji saya, saya akan mengunggah kelanjutan dari tulisan sebelumnya, yakni analisa kasus M. Nazarudin dari sudut pandang ekonomi-matematik, kali ini saya ingin melihatnya dari sudut pandang game theory. Sebelumnya yang ingin saya tekankan disini, game theory yang saya gunakan sangatlah dasar, dan sedikit ngasal, jadi jangan dianggap terlalu serius atau dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami game theory.

Berbicara mengenai game theory, ini adalah teori ekonomi singkat yang hendak menggambarkan tentang pengambilan keputusan seseorang, yang dilandasi oleh perilaku pengambilan keputusan orang lain. Literatur mengenai game theory sendiri sangat banyak tersedia di internet, jika ingin memahami mengenai topik tersebut lebih lanjut.

Kembali ke kasus Nazaruddin, lalu bagaimana kita melihat kasus Nazaruddin ini dari sudut pandang game theory? Saya ingin menggunakan game theory untuk menjawab kenapa Nazarudin itu berbohong (sesuai dengan hasil logika matematika yang dijelaskan sebelumnya).

Sengketa kasus ini sempat diwarnai isu bahwa keluarga Nazarudin disandera/diculik, sehingga Nazar yang semula berkoar-koar, menjadi membisu dan hanya sedikit sekali membeberkan fakta. Oleh karena itu, saya menggunakan asumsi: bagaimana jika Nazarudin menjadi berbohong karena tahu keluarganya diculik? Oleh karena itu, dengan game theory sederhana, saya hendak membandingkan dua kondisi: Nazar yang berbohong dan tidak berbohong, serta Keluarga Nazar yang diculik dan tidak diculik. Hasilnya dapat dilihat dari tabel berikut

Diculik

Tidak Diculik

Lie

(a) +

(b) -

Don’t Lie

(c) -

(d) 0


Sebelum dimulai penjabaran game theory, satu yang perlu diingat bahwa disini Nazar tidak tahu pasti apakah keluarganya diculik atau tidak, sehingga kita lihat "besar nilai" yang diperoleh dari segala kemungkinan kondisi yang ada.

Kondisi (a) adalah kondisi dimana keluarga Nazar diculik, dan Nazar akhirnya memutuskan berbohong. Jelas dia akan sangat "beruntung" jika dia memutuskan berbohong di saat keluarganya diculik, tentunya keluarganya bisa sedikit selamat. Namun pada kondisi (b), jika Nazar berbohong sementara keluarganya tidak diculik, jelas sekali dia akan rugi, karena orang tahu bahwa dia berbohong tentang keluarganya, dan hukumannya bisa jadi lebih parah.

Bagaimana jika Nazar memutuskan tidak berbohong? Pada kondisi (c), Nazar akan rugi. Sebab, keselamatan keluarganya bisa ikut terancam jika dia membeberkan semuanya di persidangan sementara keluarganya sendiri masih tersandera. Lalu bagaimana jika ternyata keluarganya sendiri tidak diculik, dan Nazar justru membeberkan segala yang dia tahu di persidangan (kondisi d)? Hasilnya akan nol, karena toh Nazar tidak rugi apa-apa, dan tidak untung apa-apa (karena jika mengharapkan untuk menjadi seorang Susno Duadji sudah tidak mungkin lagi).

Dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa Nazar tidak tahu tentang kondisi keluarganya, apakah diculik atau, atau sudah dibebaskan, keputusan yang paling tepat bagi Nazar tentunya berbohong. Memang bisa jadi pernyataan Nazar terkait penculikan keluarganya juga salah satu kebohongan Nazar. Jika kita hendak menguji dengan logika matematika (silakan diingat kembali tentang tabel kebenaran biimplikas), memang hanya ada dua kondisi yang mungkin, yaitu: (1) Nazar telah berkata benar jika dan hanya jika keluarganya diculik; atau (2) Nazar telah berbohong jika dan hanya jika keluarganya tidak diculik.

Namun, kembali ke game theory lagi. Jika keluarganya tidak diculik, buat apa dia berbohong? Dia tidak peroleh apa-apa lagi. Nama baik tidak mungkin, posisi di Demokrat sudah tidak ada. Disuap? Memang Nazar kurang kaya? Lebih bagus tentunya jika dia bongkar semua aib yang dia tahu, untuk balas dendam, jika memang keluarganya tidak diculik. Namun, dengan kenyataan bahwa Nazar telah berbohong (alih-alih membongkar semua fakta), maka jelaslah sudah semua. Keluarga Nazar telah diculik. Alangkah eloknya, jika memang aparat penegak hukum ini mau menggunakan cara berpikir game theory ini dalam menyingkap kasus Nazar, termasuk penculikan keluarganya, alih-alih dengan segala tetek bengek hukum-politik peradilan.

Selanjutnya, game theory untuk menjelaskan kenapa Anas Urbaningrum dan Angelina Sondakh memutuskan berbohong. Akan dipisah, agar tidak bosan.

Terimakasih telah berkenan membaca,

Salam