Sesuai janji saya, saya akan mengunggah kelanjutan dari tulisan sebelumnya, yakni analisa kasus M. Nazarudin dari sudut pandang ekonomi-matematik, kali ini saya ingin melihatnya dari sudut pandang game theory. Sebelumnya yang ingin saya tekankan disini, game theory yang saya gunakan sangatlah dasar, dan sedikit ngasal, jadi jangan dianggap terlalu serius atau dapat digunakan sebagai dasar untuk memahami game theory.
Berbicara mengenai game theory, ini adalah teori ekonomi singkat yang hendak menggambarkan tentang pengambilan keputusan seseorang, yang dilandasi oleh perilaku pengambilan keputusan orang lain. Literatur mengenai game theory sendiri sangat banyak tersedia di internet, jika ingin memahami mengenai topik tersebut lebih lanjut.
Kembali ke kasus Nazaruddin, lalu bagaimana kita melihat kasus Nazaruddin ini dari sudut pandang game theory? Saya ingin menggunakan game theory untuk menjawab kenapa Nazarudin itu berbohong (sesuai dengan hasil logika matematika yang dijelaskan sebelumnya).
Sengketa kasus ini sempat diwarnai isu bahwa keluarga Nazarudin disandera/diculik, sehingga Nazar yang semula berkoar-koar, menjadi membisu dan hanya sedikit sekali membeberkan fakta. Oleh karena itu, saya menggunakan asumsi: bagaimana jika Nazarudin menjadi berbohong karena tahu keluarganya diculik? Oleh karena itu, dengan game theory sederhana, saya hendak membandingkan dua kondisi: Nazar yang berbohong dan tidak berbohong, serta Keluarga Nazar yang diculik dan tidak diculik. Hasilnya dapat dilihat dari tabel berikut
| | Diculik | Tidak Diculik |
| Lie | (a) + | (b) - |
| Don’t Lie | (c) - | (d) 0
|
Sebelum dimulai penjabaran game theory, satu yang perlu diingat bahwa disini Nazar tidak tahu pasti apakah keluarganya diculik atau tidak, sehingga kita lihat "besar nilai" yang diperoleh dari segala kemungkinan kondisi yang ada.
Kondisi (a) adalah kondisi dimana keluarga Nazar diculik, dan Nazar akhirnya memutuskan berbohong. Jelas dia akan sangat "beruntung" jika dia memutuskan berbohong di saat keluarganya diculik, tentunya keluarganya bisa sedikit selamat. Namun pada kondisi (b), jika Nazar berbohong sementara keluarganya tidak diculik, jelas sekali dia akan rugi, karena orang tahu bahwa dia berbohong tentang keluarganya, dan hukumannya bisa jadi lebih parah.
Bagaimana jika Nazar memutuskan tidak berbohong? Pada kondisi (c), Nazar akan rugi. Sebab, keselamatan keluarganya bisa ikut terancam jika dia membeberkan semuanya di persidangan sementara keluarganya sendiri masih tersandera. Lalu bagaimana jika ternyata keluarganya sendiri tidak diculik, dan Nazar justru membeberkan segala yang dia tahu di persidangan (kondisi d)? Hasilnya akan nol, karena toh Nazar tidak rugi apa-apa, dan tidak untung apa-apa (karena jika mengharapkan untuk menjadi seorang Susno Duadji sudah tidak mungkin lagi).
Dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa Nazar tidak tahu tentang kondisi keluarganya, apakah diculik atau, atau sudah dibebaskan, keputusan yang paling tepat bagi Nazar tentunya berbohong. Memang bisa jadi pernyataan Nazar terkait penculikan keluarganya juga salah satu kebohongan Nazar. Jika kita hendak menguji dengan logika matematika (silakan diingat kembali tentang tabel kebenaran biimplikas), memang hanya ada dua kondisi yang mungkin, yaitu: (1) Nazar telah berkata benar jika dan hanya jika keluarganya diculik; atau (2) Nazar telah berbohong jika dan hanya jika keluarganya tidak diculik.
Namun, kembali ke game theory lagi. Jika keluarganya tidak diculik, buat apa dia berbohong? Dia tidak peroleh apa-apa lagi. Nama baik tidak mungkin, posisi di Demokrat sudah tidak ada. Disuap? Memang Nazar kurang kaya? Lebih bagus tentunya jika dia bongkar semua aib yang dia tahu, untuk balas dendam, jika memang keluarganya tidak diculik. Namun, dengan kenyataan bahwa Nazar telah berbohong (alih-alih membongkar semua fakta), maka jelaslah sudah semua. Keluarga Nazar telah diculik. Alangkah eloknya, jika memang aparat penegak hukum ini mau menggunakan cara berpikir game theory ini dalam menyingkap kasus Nazar, termasuk penculikan keluarganya, alih-alih dengan segala tetek bengek hukum-politik peradilan.
Selanjutnya, game theory untuk menjelaskan kenapa Anas Urbaningrum dan Angelina Sondakh memutuskan berbohong. Akan dipisah, agar tidak bosan.
Terimakasih telah berkenan membaca,
Salam